Aku terduduk
diam di sebuah tepian sungai, memandang ke sekeliling, ke awan yang begitu
indah biru, ke bunga-bunga yang indah namun jatuh berguguran, kepada
burung-burung yang berkicauan dengan merdunya. Namun, ada terselip keheningan
disana. Ya, tak ada seorangpun. Hening tak berdenting. Dan aku mulai terkulai. Entah
sejak berapa lama aku berada disini dan hanya termenung. Tak jelas. Memang.
Aku melihat
jernihnya air di sungai. Namun aku tak menemukan pantulan wajah ku di sana. Hanya
ada sebuah senyuman yang aku kenal dahulu kala. Kembali ku teringat wajahnya. Wajah
yang selalu dapat membuat ku tersenyum di kala ku sedih, membuat ku tertawa di
kala aku menangis, memberi harapan di
kala ku putus asa, memberi kekuatan di kala ku terjatuh. Benar. Itu kamu.
Semua begitu
indah, karena kamu. Aku tak memungkiri ketika aku bersama mu jantung ku selalu
berdetak lebih cepat. Terbata-bata ketika ku bersama mu. Yang bisa kulakukan
hanyalah tersenyum bahagia saat kau genggam tangan ini. Saat itu aku tak takut,
takut kau akan melepaskannya karna dalam tidur ku aku selalu memimpikannya. Namun,
aku tak ragu ketika kau mengucap janji tak akan meninggalkan ku sampai masa tua
kita nanti. Dan aku terenyuh oleh karenanya. Ya, janji yang aku ikat dalam hati
ku, dalam cinta ku yang takkan pernah berhenti sampai detak jantung ku
berhenti. Sampai darah ku berhenti mengalir, mungkin sel-sel dalam tubuh ku tak
memungkiri untuk berkata “I’ll always love you”.
Aku adalah
orang terbodoh di dunia ini, semua orang mengatakannya. Aku berubah menjadi
orang yang sangat keras kepala sejak mengenal mu. Aku berubah menjadi orang
yang selalu ingin berkorban, selalu menangis namun juga tersenyum. Aku menjadi
orang yang ambisius mengejar semua mimpi ku bersama mu. Namun semuanya sia-sia,
karna ternyata kamu tidak. Kamu tidak memilih ku.
Ku pikir,
memang kita selalu berbeda dan tak dapat bersatu. Namun, aku memperjuangkan apa
yang bisa ku lakukan. Mengapa? Aku mau meninggalkan semuanya, hanya demi kamu. Karna
kamu. Tapi semuanya percuma. Kamu meninggalkan ku seperti kita tak pernah
bertemu, tidak saling mengenal. Kamu mengatakan bahwa suatu saat mungkin kita
dapat bersama jika Tuhan mengijinkannya. Namun, aku tahu semuannya tidak
mungkin. Kau tahu mengapa? Karna Tuhan cemburu. Tuhan cemburu karna sejak aku
mengenal mu, aku lebih mencintai mu dari pada Dia. Dan aku tahu mengapa Dia
menjauhkan mu dari ku. Hanya satu jawabannya, Dia mau aku mencintai-Nya lebih
dari apapun.
Apakah ini
sebuah kesalahan? Iya dan juga tidak. Aku tak pernah menyesal bertemu dengan mu
karna aku banyak belajar darinya. Kamu mengajarkan ku arti cinta. Indahnya sebuah
pertemuan dan pahitnya sebuah perpisahan. Dan karna diri mu aku kembali
kepada-Nya. Aku memilih untuk mengikuti semua perkataan-Nya. Karna Dia yang
tahu di mana pangeran ku berada. Karna bukan kamulah yang dipilih-Nya.
“Selamat tinggal, pangeran tampan. Sepertinya
bukan kamu yang seharusnya menjemput ku. Tapi pangeran yang lain. Dan aku akan
tetap berada di sini, di istana ku, menunggunya menjemput ku”
Aku kembali
melihat pantulan diri ku yang sedang tersenyum di air sungai itu. Dan aku
berbisik pada diri ku sendiri “Yeaah Lord, I will be waiting for him who will
be with me as Your will”
LieYa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar