Notes for the
Broken Heart…
Ku harus membuangnya …
Membuang kenangnya yang menyumbat otak ku, membuang perasaan
menyesakan yang membekukan hatiku, toh dia tak peduli. Tak peduli lagi padaku.
Apa sih arti ku baginya? Kehilangan satu orang seperti ku juga tak berati
apapun baginya. Ya. Dia sudah membuangku, membuang semua kenangan tentang ku,
bahkan keberadaaanku pun tak lagi penting baginya. Menjauh? Sudah pasti…tak
berguna sepertinya berada di dekatku, hanya menguras emosi dan perasaan yang
mulai mengering.
Memangnya mengapa kalo hati ku menggelap ?
Memangnya mengapa kalo hati ku menggelap ?
Membeku dan mengeras seperti layak nya es?
Ditinggalkan hampa, dingin dan gelap tanpa kepedulian ?
Cih!! bukan waktu nya bermelankolis ria, hidup Cuma satu kali, kataku,
nikmati hidup ini.
Meski tanpanya? bukan kah ada sisi ter dalam di hatiku yang masih menuntut untuk bersama dengannya?
Meski tanpanya? bukan kah ada sisi ter dalam di hatiku yang masih menuntut untuk bersama dengannya?
Lalu bergunakah rasa itu untuk ku sekarang ? kalau diriku merasa
berguna mengapa tidak ku kejar dia. Abaikan saja saat dia mengeluh lelah
tentang mu, mencari cara untuk melupakanmu, hatinya sudah membatu, bukan
membeku…
Bisa apa aku?
Ya, mungkin aku bisa mencoba…toh batu bisa terkikis oleh air.
Terkikis? Jangan membuat ku tertawa….terkikis untuk melukainya sekali lagi?
Apakah aku mau melihat dirinya mencari cari alas an…untuk menjauh darimu?
Pikirkan itu, lebih baik aku diam…tak mengganggunya, berada diantara bayangan.
Dia akan lebih tenang melihat ku begitu, melihatku tak peduli lagi padanya.
Tapi bagaimana bisa? Dia matahari ku kan?
Tapi bagaimana bisa? Dia matahari ku kan?
Ya benar...
Tapi Aku adalah bulan. Terima itu, terima kenyataan yang menyedih kan
itu. Aku dan dia, tak bisa bersama. Dia yang meninggalkan ku, memilih menyerah
begitu saja. Dia yang menganggap cinjta itu tak berguna, tak layak
diperjuangkan. Yang harus aku lakukan adalah mebencinya, bukan mengharapkannya
dan terdepak seperti ini.
Dia bilang aku berarti baginya? Renungkan! Kalau dia menganggap ku
begitu, dia tak akan tega menyingkirkan ku seperti itu. Menyakiti hati ku
semudah membalikan telapak tangan, apa aku harus mencari mangkuk kosong tanpa
kepedulian dan mengiba cinta padanya? Kasihan! Aku ini menyedihkan…
Jadi, intinya aku ditaklukan? Begitu? Pikirkan! Sudah lewat masaku untuk bermain drama seperti ini. Menangis, memelas dan mengeluh. Menjerit tanpa ada yang mendengar jeritan ku, terlalu dalam untuk didengar siapa pun. Lalu apa gunanya? Menjerit tanpa ada yang mendengar seperti itu? Untuk mengasihani diri sendiri? Kalau begitu caranya lebih baik mati membeku saja….biar kan hati itu diam tak tergerak dalam kesuraman kenangan…Kenangan? Mimpi! Kenangan pun harus dihapus kalau diriku benar benar mau meninggalkannya…
Jadi, intinya aku ditaklukan? Begitu? Pikirkan! Sudah lewat masaku untuk bermain drama seperti ini. Menangis, memelas dan mengeluh. Menjerit tanpa ada yang mendengar jeritan ku, terlalu dalam untuk didengar siapa pun. Lalu apa gunanya? Menjerit tanpa ada yang mendengar seperti itu? Untuk mengasihani diri sendiri? Kalau begitu caranya lebih baik mati membeku saja….biar kan hati itu diam tak tergerak dalam kesuraman kenangan…Kenangan? Mimpi! Kenangan pun harus dihapus kalau diriku benar benar mau meninggalkannya…
Aku tak mau mendrita sendiri, mendrita seperti bangau kelaparan
menunggu mati, aku tidak lapar akan cinta, ada orang yang mencintaku, Bukan
hanya dia toh? Ada yang lebih besar mencintai ku dan mau menungguku,
Tapi.. Hey hati mengapa kau tak mau beranjak sedikitpun dari namanya?
Itu salah diriku sendiri! Terlalu banyak bergumul dengan mimpi dan
harapan…
hey sadar lah!! Ini kehidupan nyata , bukan komik! Mau berharap ada
kembang api atau angin semilir saat berjumpa denganya? Ini hidup non…aku bosan
menderita dan terbebani oleh diriku sendiri, aku benci jadi lemah karena
perasaan diriku terhadapnya…
Sekarang, jika diriku masih waras dan menggunakan logikanya, tanyalah
bagaimana jadi nya kalau dia tak melihat ku dalam sepekan? Mati merindu?!
Jangan lebay…justru dia merasa tenang, hatinya tidak naik turun dan terus
stabil malah, dengan begitu diriku bisa tenang melihatnya.
Tenang? Lihat status FB nya yang agak mesra dengan perempuan lain saja
diriku sudah marah marah tidak jelas…
Aku benci mengatakannya, tapi diriku ini sangat keras kepala sekali!!
Tak ada gunanya memukul angin di kehampaan, diriku sendiri yang akan kelelahan.
Tak ada gunanya memikirkan dia yang tak peduli sedikit pun pada diriku. Yang
ada hanya kasihan, iba dan peduli sebagai sesama manusia.
Diamlah, aku tak ingin mendengar lagi…
Tak ingin mendengar? Oke sekarang buka matamu, lihat lah kenyataannya?
Tidak, aku menolak melihatnya…terlalu pedih terbangun seperti ini..
Maka terus lah bermimpi, yang aku akan dapati maka hanyalah mimpi.
Tidak nyata.
Jadi, apa yang harus aku lakukan?
Maka Alih kan pandangan diriku darinya, ada harapan lain meski suram,
tapi lebih baik daripada harapan
0 % !!
Lalu apa yang terjadi pada matahariku?
Diam dan lihat lah dia bersinar, nikmati sinarnya selagi ku bisa. Diam
lah disitu dibalik kegelapan.
Hingga dia tak menyadari keberadaan ku, jangan bersuara sedikit
pun.
Selagi itu, lihat lah bintang, toh bintang yang selama ini menemani
bulan. Sekarang, kataku, lakukan dan Diamlah…
Ini kompromi kah? Bukan … melainkan, Aku sedang mencoba berdamai
dengan diriku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar