Entah sejak kapan..di
mana..dan bagaimana. Aku mulai tersenyum-senyum sendiri saat aku berbincang-bincang
dengan mu. Mendengar hal yang bersangkut-paut dengan mu. Ya, semua tentang mu,
yang bertuju kepada mu.
Bila ku ingat, mungkin
sudah sekian lama aku pernah memendam perasaan yang tak mungkin ini. Maka ku
kubur dalam-dalam. Mengapa? Karna aku tak yakin. Aku tak yakin pada diri ku
sendiri. Pada perasaan ku. Apa itu hanya perasaan kagum, simpati atau sejenisnya
atau bahkan lebih. Entahlah. Dan aku tak mau bergumul dengan hal itu lama-lama.
Bisa gila ku dibuatnya.
Ku bertanya pada bulan,
ia hanya tersenyum. Ku tanya pada angin yang bertiup semilir, ia hanya
mengucapkan selamat malam. Ku tanyakan pada matahari, ia hanya memberikan
tawanya melalui sinarnya. Dan aku lelah untuk bertanya. Ku lihat aliran sungai
mencerminkan raut wajahku yang tersenyum dengan seberkas gundah gulana tersirat.
Ku pungkiri semua
kemungkinan. Aku tak pernah menginginkannya. Tak pernah ku memimpikannya. Namun
mimpi itu pernah ada. Apakah itu pertanda? Atau hanya sebuah bunga tidur saja?
Entahlah…
Sering ku bergumam pada
diri ku sendiri jika memang itu benar, apakah iya? Jawabannya nihil.
Memang benar bulan bersinar
oleh karena bintang, bukan matahari. Dan apakah kamu bintang itu? Jika iya,
mengapa kamu tak pernah memberikan sinar mu pada ku walau hanya sedikit saja? Walau
sejujurnya kamu pernah menyilaukan sinar mu pada ku, tapi sekali waktu kamu
menghilang. Ya. Muncul..hilang. Datang..pergi. Tanpa pamit tentunya. Ada apakah
gerangan bintang ku?
Tahukah kau? Dari seribu
juta bintang yang bersinar, hanya kamu yang bersinar paling terang. Meski sangat
jauh.
Jika benar kamulah
bintang ku maka berikanlah sinar mu itu. Meski kamu jauh, bahkan terlalu jauh. Bukankah
bintang yang memilih bulan mana yang ingin diteranginya?
Maka aku tetap menunggu
kepastian yang tidak pasti ini. Entahlah….
Tidak ada komentar:
Posting Komentar