Selasa, 08 Januari 2013

Entahlah


Entah sejak kapan..di mana..dan bagaimana. Aku mulai tersenyum-senyum sendiri saat aku berbincang-bincang dengan mu. Mendengar hal yang bersangkut-paut dengan mu. Ya, semua tentang mu, yang bertuju kepada mu. 

Bila ku ingat, mungkin sudah sekian lama aku pernah memendam perasaan yang tak mungkin ini. Maka ku kubur dalam-dalam. Mengapa? Karna aku tak yakin. Aku tak yakin pada diri ku sendiri. Pada perasaan ku. Apa itu hanya perasaan kagum, simpati atau sejenisnya atau bahkan lebih. Entahlah. Dan aku tak mau bergumul dengan hal itu lama-lama. Bisa gila ku dibuatnya. 

Ku bertanya pada bulan, ia hanya tersenyum. Ku tanya pada angin yang bertiup semilir, ia hanya mengucapkan selamat malam. Ku tanyakan pada matahari, ia hanya memberikan tawanya melalui sinarnya. Dan aku lelah untuk bertanya. Ku lihat aliran sungai mencerminkan raut wajahku yang tersenyum dengan seberkas gundah gulana tersirat. 

Ku pungkiri semua kemungkinan. Aku tak pernah menginginkannya. Tak pernah ku memimpikannya. Namun mimpi itu pernah ada. Apakah itu pertanda? Atau hanya sebuah bunga tidur saja?
Entahlah…

Sering ku bergumam pada diri ku sendiri jika memang itu benar, apakah iya? Jawabannya nihil.

Memang benar bulan bersinar oleh karena bintang, bukan matahari. Dan apakah kamu bintang itu? Jika iya, mengapa kamu tak pernah memberikan sinar mu pada ku walau hanya sedikit saja? Walau sejujurnya kamu pernah menyilaukan sinar mu pada ku, tapi sekali waktu kamu menghilang. Ya. Muncul..hilang. Datang..pergi. Tanpa pamit tentunya. Ada apakah gerangan bintang ku?

Tahukah kau? Dari seribu juta bintang yang bersinar, hanya kamu yang bersinar paling terang. Meski sangat jauh. 

Jika benar kamulah bintang ku maka berikanlah sinar mu itu. Meski kamu jauh, bahkan terlalu jauh. Bukankah bintang yang memilih bulan mana yang ingin diteranginya? 

Maka aku tetap menunggu kepastian yang tidak pasti ini. Entahlah….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar