Selasa, 22 Januari 2013

Someone...One


Aku pernah berandai-andai..
Tentang sebuah keluarga yang harmonis
Yang akan ku bangun bersama seseorang
Yang akan Tuhan kirimkan untuk menjagaku kelak
Seseorang yang akan melindungiku dan anak-anakku
Seseorang yang menuntunku lebih dekat dengan Tuhan,
Bukan hanya dekat dengannya..
Seseorang yang mengingatkanku takut akan Tuhan dan cinta Tuhan lebih lagi
Seseorang yang dimana aku dan dia akan bersama-sama memuliakan nama Tuhan lebih lagi
Seseorang yang senang menyukakan hati Tuhan
Seseorang yang lebih cinta Tuhan, dibanding aku

Ya..seseorang itu yang akan menjadi sempurna ketika kami bersama
Karna kami akan dipersatukan oleh-Nya
Menjadi satu di dalam pengharapan dan iman
Satu, karna Tuhanlah kepalanya
Satu, karna saling mengerti, menopang dan membangun
Satu, dalam mendidik anak-anak kami untuk takut akan Tuhan
Satu, dalam melayani dan mengerjakan pekerjaan Tuhan
Satu, memulai dan mengakhiri segala sesuatunya
Satu, hingga kami menyelesaikan tugas kami di bumi ini
Dan Tuhan memanggil kami kembali..

LieYa

Minggu, 20 Januari 2013

Siapakah kamu?



Aku tak mau terlalu lama menunggu

Aku tak suka terlalu lama menunggu

Namun kamu membuat ku terlalu lama menunggu

Apakah benar penantian ku ini akan berakhir bahagia?

Apakah kamu pangerannya?

Apakah kamu tidak akan menyia-nyiakan penantian ku yang begitu panjang?



Apakah aku ada di hati mu?

Apakah kamu jodoh dari Tuhan itu?

Mengapa kamu selalu mampir di dalam mimpi-mimpi  ku?

Dan kamu hanya diam terpaku tak mengatakan sepatah kata-pun
Semua yang kamu pikirkan tak pernah ku mengerti
Apapun yang kamu katakan hanya membuat ku semakin bingung


Siapakah kamu sebenarnya?

Rabu, 09 Januari 2013

Monolog Satu jiwa dua Sisi

Notes for the Broken Heart…

Ku harus membuangnya …
Membuang kenangnya yang menyumbat otak ku, membuang perasaan menyesakan yang membekukan hatiku, toh dia tak peduli. Tak peduli lagi padaku. Apa sih arti ku baginya? Kehilangan satu orang seperti ku juga tak berati apapun baginya. Ya. Dia sudah membuangku, membuang semua kenangan tentang ku, bahkan keberadaaanku pun tak lagi penting baginya. Menjauh? Sudah pasti…tak berguna sepertinya berada di dekatku, hanya menguras emosi dan perasaan yang mulai mengering.

Memangnya mengapa kalo hati ku menggelap ?
Membeku dan mengeras seperti layak nya es?
Ditinggalkan hampa, dingin dan gelap tanpa kepedulian ?
Cih!! bukan waktu nya bermelankolis ria, hidup Cuma satu kali, kataku, nikmati hidup ini.

Meski tanpanya? bukan kah ada sisi ter dalam di hatiku yang masih menuntut untuk bersama dengannya?
Lalu bergunakah rasa itu untuk ku sekarang ? kalau diriku merasa berguna mengapa tidak ku kejar dia. Abaikan saja saat dia mengeluh lelah tentang mu, mencari cara untuk melupakanmu, hatinya sudah membatu, bukan membeku…
 Bisa apa aku?

Ya, mungkin aku bisa mencoba…toh batu bisa terkikis oleh air. Terkikis? Jangan membuat ku tertawa….terkikis untuk melukainya sekali lagi? Apakah aku mau melihat dirinya mencari cari alas an…untuk menjauh darimu? Pikirkan itu, lebih baik aku diam…tak mengganggunya, berada diantara bayangan. Dia akan lebih tenang melihat ku begitu, melihatku tak peduli lagi padanya.

Tapi bagaimana bisa? Dia matahari ku kan?
 Ya benar...

Tapi Aku adalah bulan. Terima itu, terima kenyataan yang menyedih kan itu. Aku dan dia, tak bisa bersama. Dia yang meninggalkan ku, memilih menyerah begitu saja. Dia yang menganggap cinjta itu tak berguna, tak layak diperjuangkan. Yang harus aku lakukan adalah mebencinya, bukan mengharapkannya dan terdepak seperti ini.
Dia bilang aku berarti baginya? Renungkan! Kalau dia menganggap ku begitu, dia tak akan tega menyingkirkan ku seperti itu. Menyakiti hati ku semudah membalikan telapak tangan, apa aku harus mencari mangkuk kosong tanpa kepedulian dan mengiba cinta padanya? Kasihan! Aku ini menyedihkan…

Jadi, intinya aku ditaklukan? Begitu? Pikirkan! Sudah lewat masaku untuk bermain drama seperti ini. Menangis, memelas dan mengeluh. Menjerit tanpa ada yang mendengar jeritan ku, terlalu dalam untuk didengar siapa pun. Lalu apa gunanya? Menjerit tanpa ada yang mendengar seperti itu? Untuk mengasihani diri sendiri? Kalau begitu caranya lebih baik mati membeku saja….biar kan hati itu diam tak tergerak dalam kesuraman kenangan…Kenangan? Mimpi! Kenangan pun harus dihapus kalau diriku benar benar mau meninggalkannya…

Aku tak mau mendrita sendiri, mendrita seperti bangau kelaparan menunggu mati, aku tidak lapar akan cinta, ada orang yang mencintaku, Bukan hanya dia toh? Ada yang lebih besar mencintai ku dan mau menungguku,

Tapi.. Hey hati mengapa kau tak mau beranjak sedikitpun dari namanya?
Itu salah diriku sendiri! Terlalu banyak bergumul dengan mimpi dan harapan…

hey sadar lah!! Ini kehidupan nyata , bukan komik! Mau berharap ada kembang api atau angin semilir saat berjumpa denganya? Ini hidup non…aku bosan menderita dan terbebani oleh diriku sendiri, aku benci jadi lemah karena perasaan diriku terhadapnya…
Sekarang, jika diriku masih waras dan menggunakan logikanya, tanyalah bagaimana jadi nya kalau dia tak melihat ku dalam sepekan? Mati merindu?! Jangan lebay…justru dia merasa tenang, hatinya tidak naik turun dan terus stabil malah, dengan begitu diriku bisa tenang melihatnya.
Tenang? Lihat status FB nya yang agak mesra dengan perempuan lain saja diriku sudah marah marah tidak jelas…
Aku benci mengatakannya, tapi diriku ini sangat keras kepala sekali!! Tak ada gunanya memukul angin di kehampaan, diriku sendiri yang akan kelelahan. Tak ada gunanya memikirkan dia yang tak peduli sedikit pun pada diriku. Yang ada hanya kasihan, iba dan peduli sebagai sesama manusia.

Diamlah, aku tak ingin mendengar lagi…
Tak ingin mendengar? Oke sekarang buka matamu, lihat lah kenyataannya?
Tidak, aku menolak melihatnya…terlalu pedih terbangun seperti ini..
Maka terus lah bermimpi, yang aku akan dapati maka hanyalah mimpi. Tidak nyata.
Jadi, apa yang harus aku lakukan? 
Maka Alih kan pandangan diriku darinya, ada harapan lain meski suram, tapi lebih baik daripada harapan
0 % !!
Lalu apa yang terjadi pada matahariku?
Diam dan lihat lah dia bersinar, nikmati sinarnya selagi ku bisa. Diam lah disitu dibalik kegelapan.
Hingga dia tak menyadari keberadaan ku, jangan bersuara sedikit pun. 
Selagi itu, lihat lah bintang, toh bintang yang selama ini menemani bulan. Sekarang, kataku, lakukan dan Diamlah…

Ini kompromi kah? Bukan … melainkan, Aku sedang mencoba berdamai dengan diriku.
















When I Met Him


When I Met Him

I was walking on the road at noon. In hurry I walked because it seemed it would be raining, and I almost ran. Fortunately, not too far from there I saw a book store. I thought I would stay for a while in there, hmm...at least until the rain stopped. I realized that I became wet, so I took off the gray sweater jacket which was given by my mother in my birthday.
Actually, since four months ago I wanted to buy a book. The title was “Boy Meets Girl” written by..mmh.. “My goodness I forget the writer!” I muttered. Felt that the wind and rain were so heavy, so I came into the book store. Wow.. what a perfect day, for 2 months I didn’t have a chance to visit book store and now I’m here! I smiled and I am excited to hunt some books. If someone saw and caught a look at me, they would feel strange because they saw such an expression of someone who found a diamond or maybe gold. Yeah.. They knew from my sparkling eyes.
I began to explore the halls of bookshelf, every hall in a detail looks. Even every book, I took a look at it. I saw so many new books and the best seller books in this year. I started thinking again as like as I always did if I’m in a bookstore, how come an author could write amazing books like this, and people all around the world read it. I wanted to become like them, writing books that would give positive impact for the world. It’s still noon, why I have imagined this again?! I pat my checks and remind myself.
“Wake up.. Wake up Rose!”
I shocked when I turned my face to the right, a man was looking at me with an expression that I couldn’t described, but it said ‘are you ok? Are you crazy?’
I immediately smiled at him. “Hi..” only that words I could say at that time.
He replied with a flat smile and said “Hi..”
Oh God, please help me, I just wanted to get into a hole now.
“Hmm.. Are you looking for a book? I asked.
“Yeah..” the only word he said.
For a moment I realized, of course everyone here will be looking for books, not for coffee, suits, or movies. I laughed and thought ‘ooh.. How fool I am!’
In the second he said “Excuse me, I want to find the book”
I replied with a very low voices “Ok.. Sure”.
Then, he passed and began to look at books again. ‘Thank God..huuhff…’ I took breathe and released it freely.
I continued to find the book. ‘Where is it, ah.. Maybe I must ask to the shopkeeper’ Then, I looked for someone who could give me information about the writer of the book I was searching for. Someone said that it was written by Joshua Harris. ‘Oh yeah..Now I remember it!’
I began to explore every hall again. ‘That is it! I found it!’ Just when I wanted to grab the book, another hand also wanted to grab it. Our hands touch to each other. I was annoyed and thought who was daring scrambling the book with me! It had been for so long to me to find out this book. In the next second I looked at the person. I don’t know what to say and what I should do! He was here.. Again…!

***
Actually, I had never had relationship with a man before nor even had some friends with them closely. But, now I could talk closely with him. His name was Jack. Yeah.. We met for second time in that bookstore accidentally. The funny thing is he was looking for the same book as like as me in that bookstore.
“Ahhaha..How it could be?” I laughed; still waiting in front of the bookstore and hoping the rain would soon stop.
“Yeah..  Sometimes the event like this happens for real” he smiled meaningfully.
“How do you know about the book? Why do you interested in it?” I ask curiously.
“Hmm.. One of my friends bought it, I have read a little bit and I want to read it more” he explained.
“Ooh.. I see.. Honestly, this is the best book. Yeah.. Especially for teenager who…. wants to have… or will have… a courtship” I said haltingly.
“Uh..huh..” he replied briefly.
In next second, only the rain and wind controlled the situation. I glanced at him, I thought he was kind, gentleman, good looking, and… he had a wonderful smile! When he realized that someone beside him observed him, he casted his eyes and smiled. Quickly, I looked at somewhere else. “Ouh.. What am I doing?!’ I muttered. It seems the rain would not stop for long. So, I decided to enter the bookstore again. But, I didn’t.
He asked “Do you live near from here?”
“No, I live in San Francisco. I just have a workshop here today. Hmm.. Actually I will go back tomorrow.” I explained in detail.
“Ooh.. I see” he said.

***

The sun shined brightly, birds sang sweetly, and wind blew gently. It seemed the weather was so friendly with me. I must go home. I checked my bags, all things were in them.
“Hmm..okay, let’s go home!”
In my way, my hand phone rang. I put it out from my leather bag.  I got messages!  Who is it?
Jack:
Hi, Rose. U are in ur way go home, right? Hope u arrived at home safely. I know we met accidentally yesterday, but I think it’s so funny. Haha.. I’m also glad to meet u. Take care.. J

Oh I almost forgot that we have exchanged mobile number each other! Yeah, I was so happy at that time and didn’t know what to say. Immediately, I replied the messages.
Rose:
Hi Jack..yeah..me too.. Hope we will meet again next time. ok, thanxJ
Hmm..btw I can text u anytime, right? Seems that we will share many things cause we have so many similarities :D

Sent.
What am I doing?! Oh, it’s like I’m too aggressive! I nagged at myself for what I had done. Wait.. wait.. No..I just ordered about our friendship. Yeah.. that’s right! It’s not wrong if someone wanted to make friends, right?! I had convinced myself.
My hand phone rang again, sign messages is come.
Jack:
Yeah..sure, anytime Rose..my pleasure :D

I smiled when saw the text. Looked at the car’s window, opened it, and I felt the blowing wind as like as says ‘It will be excited, colorful n wonderful things come in the next…Be ready!’.
Yeah, I know it will be. When I met him.


Dedicated for my beloved brother: N.I.

LieYa